Sabtu, 01 Januari 2011

Cara Buat Pakan Cupang

Selain disebabkan oleh hama dan penyakit, tingginya kematian cupang hias ditentukan pula oleh lancar tidaknya pasokan pakan alami yang baik dan disukai ikan hias. Saat ini untuk menjaga kelancaran pasokan makanan alami tsb, hampir sepenuhnya dapat dilakukan dengan teknik sederhana sekalipun.

a. Pengulturan Jentik Nyamuk

Prinsip dari pengulturan jentik nyamuk adalah menyediakan tempat untuk memikat induk nyamuk agar mau bertelur. Sedikanlah wadah yg berisi air yg mengandung sampah organik (misal dari comberan atau got dapat pula dengan menggunakan air bekas cucian beras). Buatlah penutup setinggi 20cm dari permukaan air. Tempatkan wadah tersebut didekat saluran pembuangan seperti comberan atau tempat bersarangnya nyamuk. Biasanya, pada hari ketiga hingga kelima, nyamuk sudah meletakkan telur-telurnya di wadah tsb. Telur-telur ini akan menetas setelah 1-3 hari kemudian. Untuk menjaga kontinuitas pasokan, jentik nyamuk harus diberi makan berupa ragi atau susu bubuk. Pemberian panakan dapat dilakukan secara satu atau dua kali dalam seminggu.
b. Pengulturan Kutu Air
Untuk pengulturan kutu air, wadah yg dapat digunakan antara lain, bak semen, baskom, bak plastik, atau bak fiberglass. Mula-mula bersihkan dulu wadah yg akan digunakan dan kemudian dijemur selama 2 hari di bawah sinar matahari langsung. Setelah itu taburkanlah kapur pertanian pada wadah tersebut sebanyak 1-2 kg per m². Becekkanlah kapur tsb dengan memberikan air kedalam wadah. Berikutnya, masukkan kotoran ayam sebanyak 2 kg per m². Dapat pula ditambahkan bahan lain misalnya ampas kedelai. Aduk semua bahan secara merata. Alirkan kembali air kedalam wadah mencapai ketinggian 30 cm. Biarkan selama 3-5 hari hingga air menjadi kecoklatan, lalu masukkan bibit kutu air kedalam wadah. Pada hari ketujuh setelah pemasukan bibit, kutu air sudah dapat dipanen. Untuk menjaga kontiniuitas pasokan, setiap satu atau dua minggu sekali harus dilakukan pemupukan susulan dengan dosis ½ jumlah pemupukan awal.
c. Pengulturan Cacing Sutra
Wadah yang digunakan berupa bak semen mirip saluran air. Bak harus dilengkapi dengan saluran pemasukan maupun pembuangan yang letaknya saling berhadapan masing-masing diujung bak. Setelah siap, masukkan lumpur halus yang berasal dari selokan dengan ketebalan 5 cm. Tambahkan pula pupuk kandang sebanyak 100 gr per m². Kemudian alirkan lah air kedalam wadah secara kontinu dengan debit air sedikit demi sedikit. Nasukkanlah bibit cacing sutra di seluruh permukaan dasar bak. Jangan lupa untuk menutup wadah agar pengulturan tidak terkena matahari secara langsung. Bila berjalan dengan baik, makan 2-4 minggu pemanenan dapat dilakukan dengan cara bertahap, artinya selalu menyisakan sebagian cacing sutra untuk bibit selanjutnya.
d. Pengulturan Infusoria
Wadah yg dapat digunakan adalah akuarium, ember, atau baskom plastik. Bahan-bahan yg dibutuhkan untuk media pengulturannya adalah potongan jerami, daun selada dan kulit pisang. Kombinasi lain yg dapat digunakan adalah daun selada, daun kol, dan daun talas. Setelah semua bahan tersedia, rebuslah semua bahan tersebut hingga menjadi buur, lalu masukkan ke dalam wdah erisi air yg telah disiapkan. Agar lebih berhasil, penempatan wdah sebaiknya ditempat yg teduh. Setelah 1 minggu, media siap ditulari dengan infusoria. Bibit ini diperoleh dari comberan atau saluran air yg mengandung banyak mengandung bahan organik. Ambilah beberapa sendok air dari dalam comberan, lalu masukkan kedalam media. Pemanenan sudah dapat dilakukan setelah 1 minggu bibit disebarkan. Selama proses pengulturan ini sebaiknya ditambah dengan aerasi atau blower.

 http://www.kaskus.us/showthread.php?t=5407084

0 komentar:

Poskan Komentar

isi komentarnya dunk.. ^_^

fahrizal's blog

fahrizal's blog

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Follow by Email

Blogger Template by ardi33's template.
fahrizal 182 Edited by Fahrizal